Bunga Bangkai Raksasa Diprediksi Mekar di Kebun Raya Bogor, Fenomena Langka Setelah 12 Tahun

Saifuddin Romli |

Bunga Bangkai Raksasa Diprediksi Mekar di Kebun Raya Bogor, Fenomena Langka Setelah 12 Tahun

Bogor – Bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum yang berstatus Terancam Punah (Endangered) diperkirakan akan kembali mekar di Kebun Raya Bogor mulai Rabu, 3 Februari 2026. Peristiwa ini menjadi momen langka karena terakhir kali bunga ikonik tersebut mekar di Kebun Raya Bogor sekitar 12 tahun lalu, tepatnya pada 2014.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengatakan pola pemekaran bunga bangkai raksasa hingga kini masih belum dapat diprediksi secara pasti. Para periset masih terus mempelajari siklus mekarnya yang tidak teratur.

Baca Juga : Kebun Raya Bogor – Harga Tiket, Alamat, dan Sejarah

“Kalau kita lihat, pola pemekarannya memang belum konsisten. Kadang mekar setiap tiga tahun, kadang dua tahun, dan terakhir itu tahun 2014. Karena itu para periset masih berusaha memahami polanya,” ujar Arif saat meninjau Kebun Raya Bogor, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (2/2/2026).

Arif menyebutkan, bunga bangkai tersebut diperkirakan mulai mekar pada 3 Februari 2026. Menurutnya, peristiwa ini menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat, khususnya pecinta keanekaragaman hayati.

“Ini akan menjadi momen yang sangat penting bagi pecinta biodiversitas di Indonesia,” katanya.

Saat Arif melakukan kunjungan ke lokasi pada Sabtu (31/1/2026), bunga bangkai raksasa tersebut telah mencapai tinggi sekitar 120 sentimeter, dengan diameter kuncup sekitar 21 sentimeter. Ia menegaskan, Amorphophallus titanum merupakan spesies yang dilindungi dan masuk kategori Endangered Species menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Di Kebun Raya Bogor sendiri, terdapat sembilan jenis bunga bangkai yang telah ditanam dan dikoleksi sejak 1992. Arif menilai, momen mekarnya bunga langka ini penting untuk disaksikan masyarakat luas, terutama anak-anak, agar mengenal kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia sejak dini.

“Tidak semua negara memiliki biodiversitas seperti Indonesia. Sebagian kekayaan itu bisa kita temui dan pelajari di Kebun Raya Bogor,” ujarnya.

Menurut Arif, Kebun Raya memiliki peran strategis sebagai bagian dari program pemerintah dalam konservasi tanaman langka. Ia berharap Kebun Raya Bogor tidak hanya berfungsi sebagai pusat riset dan koleksi, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi konservasi yang dikemas dalam konsep wisata edukatif.

Dengan pendekatan tersebut, Arif optimistis kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati akan semakin meningkat. Ia juga menegaskan, kemampuan Indonesia dalam merawat dan mengelola kekayaan biodiversitas akan sangat menentukan citra Indonesia di mata dunia.

“Indonesia punya kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa dan itu harus benar-benar kita jaga. Cara kita merawat dan mengelolanya akan menentukan posisi Indonesia di mata dunia,” tutup Arif.