Museum Perjuangan Bogor Terancam, Pengelolaan Jadi Persoalan Utama

Saifuddin Romli |

Museum Perjuangan Bogor Terancam, Pengelolaan Jadi Persoalan Utama

Bogor – Di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Bogor, Museum Perjuangan Bogor berdiri sebagai saksi bisu sejarah perjuangan bangsa. Museum yang berlokasi di Jalan Merdeka No. 66, Bogor Tengah ini menyimpan berbagai peninggalan bersejarah para pejuang kemerdekaan, sekaligus menjadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat.

Namun, di balik nilai historisnya, museum perjuangan tertua di Indonesia ini kini menghadapi persoalan serius. Masalah utama yang dihadapi bukan pada koleksi, melainkan pada sistem pengelolaan yang sejak awal tidak pernah berada di bawah pemerintah daerah.

Baca Juga : Rustic Market Sentul Bogor: Jam Buka, Lokasi, Harga, dan Daya Tarik Wisata Bernuansa Eropa

Museum Perjuangan Bogor resmi berdiri pada 10 November 1957 atas prakarsa para pejuang yang tergabung dalam Karesidenan Bogor. Sejarawan Taufik Hassuna menyebut museum ini sebagai museum perjuangan pertama di Indonesia. Pada masa awal, pengumpulan koleksi berjalan lancar karena benda-benda sejarah masih berada dekat dengan para pelaku perjuangan.

“Masalah muncul ketika generasi pejuang mulai berkurang. Pengelolaan tidak pernah ditata ulang secara profesional,” ujar Taufik.

Menurutnya, sejak awal museum dikelola oleh yayasan yang dibentuk para pejuang tanpa melibatkan pemerintah. Pergantian pengurus dari generasi ke generasi membuat arah pengelolaan kian tidak jelas, termasuk dari sisi kapasitas dan perawatan koleksi.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi fisik bangunan mulai memprihatinkan. Kusen dan ventilasi kayu terlihat keropos, plafon mengalami rembesan, dan cat dinding tampak kusam. Beberapa fasilitas penunjang juga tidak berfungsi optimal, kondisi yang dinilai berisiko bagi keberlangsungan koleksi bersejarah.

Taufik menilai, diperlukan langkah tegas untuk menyelamatkan museum. Ia mendorong keterlibatan pemerintah dalam pembenahan manajemen dan perawatan, tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat.

Sementara itu, Ketua Pengurus Museum Perjuangan Bogor, Bunjamin, mengaku pengelolaan museum hingga kini masih bertumpu pada yayasan. Seluruh operasional museum dibiayai dari tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang, tanpa subsidi rutin dari pemerintah.

“Kami terbuka soal bantuan, tapi pengelolaan sebaiknya tetap di yayasan. Kekhawatirannya, jangan sampai museum ini berubah fungsi,” ujarnya.

Pengunjung pun berharap ada perhatian lebih serius. Sejumlah mahasiswa yang berkunjung mengaku prihatin dengan kondisi museum dan khawatir koleksi bersejarah rusak jika tidak segera dibenahi.

Museum Perjuangan Bogor saat ini masih buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB. Di tengah keterbatasan, museum ini terus bertahan, menunggu kepastian masa depan sebagai bagian penting dari memori perjuangan bangsa.